Legenda Batang Tuaka

Saturday, July 16th 2011. | Catatan Pribadi

Legenda  Batang Tuaka

Alkisah, pada zaman dahulu kala, di daerah Indragiri,  Riau, Indonesia, hiduplah seorang janda tua bersama anak laki-lakinya bernama  Tuaka. Mereka hidup berdua di sebuah gubuk yang terletak di muara sebuah sungai  (tepatnya di muara sungai Indragiri Hilir). Mereka tak punya sanak-saudara dan  harta sedikit pun. Meskipun hidup miskin, mereka tetap saling menyayangi. Untuk  hidup sehari-hari Tuaka membantu emaknya mengumpulkan kayu api dari hutan-hutan  di sekitar tempat tinggal mereka. Ayah Tuaka sudah lama meninggal dunia, dengan  demikian emaknya harus bekerja keras menghidupi dirinya dan anak laki-lakinya,  Tuaka.

Suatu hari, Tuaka bersama emaknya pergi ke hutan di  sekitar sungai. Mereka mencari kayu api untuk dijual dan untuk memasak  sehari-hari. Setelah memperoleh kayu api cukup banyak, mereka berdua akhirnya  pulang. “Mak, kalau Emak lelah biarlah Tuaka saja yang menggendong kayu apinya,‘  kata Tuaka saat melihat emaknya kelelahan. “Tak apa, Tuaka. Emak masih kuat.  Lagi pula, kayu bakar yang ada padamu juga banyak,” jawab Emak Tuaka sambil  melanjutkan langkahnya.

tuaka012 Legenda Batang TuakaDi tengah perjalanan pulang, Tuaka dan emaknya dikejutkan  oleh suara desisan yang cukup keras. “Mak! Suara apa itu?”, tanya Tuaka pada  emaknya. “Sepertinya itu suara ular berdesis”, jawab emaknya. Ternyata benar,  tak jauh dari mereka, dari arah tebing sungai tampak dua ekor ular besar sedang  bertarung. Tampaknya mereka sedang memperebutkan sebuah benda. “Tuaka,  sembunyilah. Ada ular besar yang sedang berkelahi,” perintah Emak Tuaka. Tuaka  dan emaknya segera berlindung di balik sebuah pohon yang cukup besar. Dari  balik pohon itu, Tuaka dan emaknya terus menyaksikan dua ekor ular itu saling  bergumul dan belit-membelit. “Apa yang mereka perebutkan, Mak?” tanya Tuaka. “Mak  juga tak tahu! Diamlah Tuaka, nanti mereka mengetahui keberadaan kita,” jawab  Emak Tuaka dengan suara berbisik.

Tak  lama kemudian, perkelahian kedua ekor ular tersebut akhirnya usai. Tuaka dan  emaknya keluar dari balik pohon, lalu mendekat ke tempat kejadian itu. Mereka  mendapati salah satu ular sudah mati, sedangkan ular lainnya terluka. Ular yang  terluka itu menggigit sebuah benda berkilau, yang ternyata adalah sebutir  permata (kemala) yang sangat indah. Ular itu tampak kesakitan oleh  luka-lukanya. “Mak, kasihan ular yang terluka itu.

Mari kita tolong,” kata Tuaka kepada emaknya dengan nada  mengajak. “Ya, mari kita bawa pulang, supaya kita bisa obati di rumah,” jawab  Emak Tuaka. Tuaka memasukkan ular itu ke dalam keranjang yang dibawa emaknya,  lalu memanggulnya pulang. Sampai di rumah, Emak Tuaka segera mencari  daun-daunan yang berkhasiat, menumbuknya, lalu membubuhkannya pada luka-luka di  tubuh ular itu, sedangkan Tuaka sibuk memberinya minum air sejuk.

Beberapa hari kemudian, ular yang sudah mulai sembuh itu  tiba-tiba hilang dari keranjang. Permata yang selalu dia lindungi di dalam  lingkaran badannya ditinggalkan di dalam keranjang. Tuaka dan emaknya  terheran-heran, lalu mereka mengamati parmata itu dengan kagum. “Mengapa ular  itu meninggalkan permatanya, Mak?” tanya Tuaka kepada emaknya. “Berangkali dia  ingin berterima kasih kepada kita, karena kita sudah menolongnya. Sebaiknya  kita jual saja permata ini kepada saudagar. Uangnya kita gunakan untuk  berdagang supaya kita tidak hidup misikin lagi,” jawab Emak Tuaka penuh rasa  syukur. Tuaka pun setuju dengan tawaran emaknya.

Keesokan harinya, Tuaka pergi ke bandar yang ramai dengan  para saudagar. Sesampai di bandar, Tuaka berkeliling kesana-kemari mencari  saudagar yang berani membeli permatanya dengan harga yang tinggi. Hampir semua saudagar  di bandar itu ia tawarkan, namun tak ada yang berani membelinya. Tuaka pun  mulai putus asa. Tuaka berniat membawa pulang pertama itu kepada emaknya. Namun,  ketika sampai di ujung bandar, tiba-tiba ia melihat seorang saudagar yang  sepertinya belum ia tawarkan. Tuaka menghampiri saudagar itu,  kemudian menawarkan permatanya dengan harga yang tinggi.Tampaknya, saudagar itu sangat tertarik setelah mengamati  permata berkeliau itu. “Aduhai elok sangat batu permata ini! Aku sangat ingin  memilikinya. Harga yang kau tawarkan itu memang tinggi, tapi aku tetap akan  membelinya,” kata sang Saudagar. Kalau begitu, apa lagi yang Tuan tunggu? Tuan  hanya tinggal membayarnya,” desak Tuaka dengan hati berdebar karena bahagia. “Uang  yang aku bawa tak cukup, Nak! Jika kamu mau, kamu boleh ikut denganku ke  Temasik untuk mengambil kekurangannya,” kata sang Saudagar. Tuaka  tampak termenung sejenak memikirkan tawaran sang Saudagar. “Ehm, baiklah Tuan.  Saya nak ikut Tuan ke Temasik,” jawab Tuaka. Setelah itu, Tuaka pulang ke  rumahnya untuk menceritakan masalah ini pada emaknya. Akhirnya, Emak Tuaka  mengizinkannya berangkat ke Temasik (Singapura). Tuaka dan saudagar kaya itu  berlayar menuju Temasik. Sepanjang perjalanan, Tuaka tak henti-hentinya  membayangkan betapa banyak uang yang akan diperolehnya nanti.

Setibanya  di Temasik, sang Saudagar membayar uang pembelian permata kepada Tuaka. Karena  uang yang berlimpah tersebut, Tuaka lupa kepada ibu dan kampung halamannya. Dia menetap di Temasik. Beberapa tahun kemudian dia telah  menjadi saudagar kaya. Dia menikah dengan seorang gadis elok rupawan. Rumah  Tuaka sangatlah megah, kapalnya pun banyak. Hidupnya bergelimang  dengan kemewahan. Dia tak lagi peduli emaknya yang miskin dan hidup sendirian,  entah makan entah tidak.

Suatu  ketika, Tuaka mengajak istrinya berlayar. Kapal megah Tuaka berlabuh di kampung  halaman Tuaka. Sebenarnya Tuaka masih ingat dengan kampung halamannya tersebut.  Akan tetapi, rupanya dia enggan menceritakan kepada istrinya bahwa di kampung  yang mereka singgahi tersebut emaknya masih hidup di sebuah gubuk tua. Dia tak  mau istrinya mengetahui bahwa dirinya adalah anak seorang wanita yang sudah  tua-renta dan miskin.

Sementara itu, berita kedatangan Tuaka terdengar pula  oleh emaknya. Emaknya bergegas menyongsong kedatangan  anak lelakinya yang bertahun-tahun tak terdengar kabar beritanya tersebut. Karena  rindu tak terbendung ingin bertemu anaknya, Emak Tuaka pun bersampan mendekati  kapal megah Tuaka. “Tuaka, Anakku. Emak sangat merindukanmu, Nak!” teriak Emak  Tuaka saat melihat Tuaka dan istrinya di atas kapal megah itu. “Siapa gerangan  wanita tua itu, Kakanda? Mengapa dia menyebut Kakanda sebagai anaknya?” tanya  istri Tuaka dengan wajah tidak senang.

tuaka022 Legenda Batang TuakaTuaka  terkejut bukan kepalang melihat emaknya di atas sampan berteriak memanggilnya. Dia  tahu wanita dengan pakaian compang-camping itu memang emaknya, tetapi dia tak  sudi mengakuinya. Dia sangat malu pada istrinya. “Hei, jauhkan wanita miskin  itu dari kapalku. Dasar orang gila tak tahu diri! Beraninya dia mengaku sebagai  emakku,” teriak Tuaka dari atas kapal. “Ya, usir dia jauh-jauh dari sini,”  tambah istri Tuaka sambil bertolak pinggang. Mendengar perintah dari tuannya, anak  buah Tuaka segera mengusir wanita miskin nan malang itu menjauh dari kapal.

Emak Tuaka  sangat bersedih. Sambil menangis dia bersampan menjauhi kapal Tuaka. “Oh,  Tuhan. Ampunilah dosa Tuaka karena telah durhaka kepadaku. Berilah dia  peringatan agar menyadari kesalahannya,” ratap Emak Tuaka. Rupanya Tuhan  mendengar doa Emak Tuaka. Sesaat setelah doa Emak Tuaka terucap, tiba-tiba  Tuaka berubah menjadi seekor burung elang. Begitu pula istri Tuaka, dia  berubah menjadi seekor burung punai. Emak Tuaka  sangat terkejut dan sedih melihat anaknya berubah menjadi burung. Walaupun  Tuaka telah menyakiti hatinya, sebagai seorang ibu ia sangat mencintai anaknya.

Burung  elang dan burung punai tersebut terbang berputar-putar di atas muara  sungai sambil menangis. Air mata kedua burung itu menetes, membentuk sungai  kecil yang semakin lama semakin besar. Sungai itu kemudian diberi nama Sungai  Tuaka. Kemudian oleh masyarakat setempat mengganti kata “sungai” ke dalam  bahasa Melayu menjadi “batang”, sehingga nama “Sungai Tuaka” berubah menjadi  “Batang Tuaka”. Sejak itu pula, daerah di sekitar muara sungai tersebut diberi  nama Batang Tuaka yang kini dikenal dengan Kecamatan Batang Tuaka yang masuk  dalam wilayah Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, Indonesia.

Masyarakat  Melayu Indragiri, baik di hilir maupun hulu sungai, meyakini legenda ini  benar-benar pernah terjadi pada zaman duhulu kala di sekitar muara sungai  Indragiri. Jika ada suara jerit elang berkulik pada siang hari di sekitar muara  Sungai Tuaka, masyarakat setempat meyakini bahwa suara burung tersebut sebagai  penjelmaan Tuaka yang menjerit memohon ampun kepada emaknya.

 

tags: , , , , , , , , ,

Leave a Reply

RezkiNasrullah.com : buat soal dan jawaban tentang elektro,pertanyaan tentang komponen elektro teknik,mimpi terlambat datang ujian,pasukan berkuda islam,pasukan islam ambon,foto lucu real madrid anti barcelona,dua dunia 2011 vuclip,bagaimana biar usaha dimudahkan rejekinya,test kepintaran indonesia,Sholat duha di gampangkan rekeki,pertanyaan tes iq lucu dan jawabannya,contoh gambar ilustrasi karikatur,tes kepintaran,soal-soal tes iq untuk smp,foto lucu versi solor,cara di mudakan urusan,soal tes iq smp,video blogspot japan selingkuh,jawaban tes iq angka,not angka lagu wajib sorak sorak bergembira,kumpulan soal soal tes iq,foto anti barca,apa artinya mimpi dapat rezki 186 juta,harga blackberry,biaya tes iq utk anak sma,mimpi ujian sekolah tidak lulus,barang gratis yg dikirim langsung ke rumah,doa supaya di gampangkan rejeki,soal tes iq dan jawaban,kumpulan soal tes iq smp